Ayam Pelung, Si Jangkung Yang Jago Bersenandung

By: RajaKamar Admin , 10 June 2013

Jika memungkinkan, masyarakat Cianjur bisa saja menggelar kontes “Cianjur Idol”. Pesertanya bukan penyanyi-penyanyi muda yang siap menjadi bintang baru, melainkan ayam. Kok ayam? Ya, Ayam Pelung. Unggas asli Kota Cianjur, Jawa Barat, ini bertubuh jangkung, mempunyai ciri khas dalam berkokok, dan merupakan satwa langka, sehingga perlu dilestarikan. Salah satu upaya melestarikannya adalah dengan menyelenggarakan kontes-kontes di kalangan penggemarnya. Dalam kondisi bagus, Ayam Pelung jantan ditebus dengan harga Rp 10-20 juta seekornya.

Image : Ayam-Pelung-Mania FB

Ayam Pelung adalah ayam lokal Indonesia yang banyak dipelihara dan dikembangbiakkan di masyarakat pedesaan Cianjur. Sifat genetik dari unggas ini adalah suara berkokok yang panjang mengalun dan pertumbuhannya cepat, sehingga postur badannya besar. Secara fisik, ayam yang menjadi ciri khas Cianjur ini memang terkesan besar, berbeda dengan ayam-ayam kampung pada umumnya. Bobotnya saja bisa mencapai 5-6 kg untuk ayam jantan dewasa dan tingginya antara 40-50 cm.

Jika ayam ini dirawat dan dilatih dengan baik, maka akan menghasilkan suara berkokok yang begitu merdu didengar. Ada yang berkokok dengan suara yang panjang, ada yang berirama, dan ada juga yang bersuara unik di tengah kukurannya, contohnya “ela-elu-ela” atau “oooooook”. Travelers bisa membayangkan tidak ya?

Nah, untuk melestarikan ayam unik ini, para penggemarnya mengusulkan untuk diadakan semacam lomba atau kontes. Di kontes ini, si ayam dinilai dari bentuknya, warnanya, suaranya, dan juga kesehatannya. Yang paling bagus nilainya, dialah yang menang. Pada awalnya ajang tahunan ini sering disebut dengan Kongkur (conqour), tapi sampai sekarang pun masih disebut demikian. Konkur biasanya digelar sekitar bulan April-Juni di sebuah tanah lapang luas, tenang, dan banyak pepohonan rimbun di sekitarnya. Acara ini selalu ramai disaksikan penduduk setempat.

Image : ceriwis

Menurut masyarakat Cianjur, asal-muasal Ayam Pelung ini ketika pada tahun 1850 ada seorang kiai di Cianjur yang bermimpi bertemu putra dari Bupati Cianjur pertama. Dalam mimpinya, ia disuruh mengambil ayam yang ada di suatu tempat. Esoknya saat berkebun ia menemukan seekor anak ayam jantan yang besar dan tinggi. Setelah dipelihara setahun, kokoknya terdengar enak dan berirama merdu. Begitulah. Sayangnya di sini tidak diceritakan kisah si betinanya bagaimana.

Kini Ayam Pelung semakin luas dikenal orang, bahkan sampai ke luar negeri. Untuk terus melestarikannya sekaligus juga mengangkat citra kedaerahan Cianjur, kontes Konkur selalu diselenggarakan setiap tahunnya, dan diikuti oleh pemilik dan pemelihara Ayam Pelung se-Jawa Barat dan Jakarta.

Be Sociable, Share!

Other Posts

Leave a Reply

Mari budayakan berkomentar positif, setiap komentar yang bermuatan negatif, berbau SARA, spam, menggunakan bahasa kurang sopan, memicu pertikaian, atau tidak berhubungan dengan artikel terkait tidak akan ditayangkan dalam blog Rajakamar.

Kolom komentar bertujuan untuk berbagi info seputar artikel yang terkait, berbagai ide dan pengetahuan positif dengan pembaca lainnya, menggunakan bahasa yang baik dan sopan serta menyebarkan semangat positif untuk berbagi.Mari lebih bijak dalam berkomentar

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan. Field yang wajib diisi diberi tanda *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>